Hidup di era globalisasi membuat kita melihat dunia semakin kecil dalam hal
jangkauan tempat dan semakin sempit dalam jangkauan waktu. Karena sekarang
jarak yang jauh dapat ditempuh dengan singkat. Jarak yang jauh juga tidak
masalah yang berarti untuk menjalin komunikasi. Masalah antar negara yang
dulunya dapat ditutupi dengan rapi, sekarang dengan mudahnya terpublikasi
secara global. Semua hal ini tidak lepas dari semakin canggihnya tekhnologi
yang membuat border antar negara semakin pudar. Disatu sisi,
memang globalisasi ini membawa dampak positif dengan memudahkan segala
aktifitas untuk dilakukan secara cepat dan akurat. Tapi konsep ini juga membawa
dunia mengalami masalah yang lebih kompleks. Karena dengan semakin terbukanya
hubungan antara individu, kelompok, komunitas dan negara, tidak hanya
menciptakan kerjasama tapi juga konflik yang semakin bervariasi di dalamnya.
Lalu bagaimana Islam menyikapi isu ini, apakah ia kompatibel untuk disandingkan
dengan globalisasi? Hal ini dapat dijawab dengan bagaimana Islam itu sendiri
memandang globalisasi.
Tidak ada definisi pasti mengenai globalisasi. Menurut Robertson (1992),
globalisasi mengacu pada penyempitan dunia secara intensif dan peningkatan
kesadaran kita akan dunia, yaitu semakin meningkatnya koneksi global dan
pemahaman kita akan koneksi tersebut. Pendapat lain mengatakan bahwa
globalisasi adalah proses dimana berberbagai peristiwa, keputusan dan kegiatan
di belahan dunia yang satu dapat membawa konsekuensi penting bagi berbagai
individu dan masyarakat di belahan dunia yang lain (A.G. Mc.grew, 1992).
Dilihat dari definisi-definisi diatas, secara umum globalisasi dapat
didefinisikan sebagai proses penyempitan dunia dimana suatu fenomena yang
terjadi di satu negara dapat mempengaruhi negara-negara lain secara cepat dan
merupakan suatu proses tatanan masyarakat yang mendunia dan tidak mengenal
batas wilayah.
Islam merupakan agama global dengan ajaran yang universal. Konsep
globalisasi dalam Islam sudah diterapkan dalam Islam sejak zaman Rasulullah
SAW. Hal ini dapat dilihat ketika Rasulullah SAW memerintahkan utusan-utusannya
untuk mengantarkan surat-surat dakwah ke raja-raja dan berbagai pemimpin di
berbagai negara. Jadi, secara penerapan Islam sudah menggunakan konsep ini,
hanya saja istilahnya baru ada jauh setelah beliau wafat dan diusung oleh barat.
Globalisasi Islam berangkat dari kesatuan antaran tataran konseptual dan
tataran aktual, dan ini merupakan keistimewaan Islam. Oleh karena itu,
globalisasi dalam Islam adalah suatu proses mengglobalkan nilai-nilai
universalitas seperti toleransi, kebersamaan, keadilan, kesatuan, musyawarah
dan lain lain.
Karena Islam pada dasarnya adalah agama universal, maka Islam sangat
relevan dengan konsep globalisasi ini. Hal ini seperti yang dikatakan
oleh Subhilhar dan Indra Kesuma Nasution dalam tulisannya. Terdapat
beberapa relevansi antara Islam dan globalisasi:
1. Islam dan pembangunan
sumber daya, Globalisasi mememiliki sifat kompetitif apalagi bila disandingkan
dengan bisnis dan perekonomian antar negara. Sehingga hal ini menuntut
masyarakat untuk mengembangkan potensi-potensi yang dimiliki dan berusaha yang
terbaik untuk dapat memberikan kontribusi pembangunan negara atau dunia yang
lebih baik. Dalam Islam, hal ini sangat didukung. Seperti ajaran-ajarannya yang
tergambar di kalimat berikut: "Beribadahlah kamu seolah-olah kamu mati
esok dan bekerjalahkamu seolah-olah kamu hidup selamanya." Kalimat
tersebut mengisyaratkan bahwa bagi umat Islam diharuskan untuk berusaha
melakukan pembangunan-pembangunan dan meningkatkan sumber daya.
2. Islam dan globalisasi
pendidikan, Mengglobalnya istilah globalisasi tidak lepas dari semakin
canggihnya tekhnologi dan produksi. Dalam hal pendidikanpun, kecanggihan ini
dapat dirasakan dan sangat membantu dalam proses belajar dan mengajar. Hal ini
juga tidak dielakkan oleh Islam. Dalam Islam malah mencoba untuk menggunakan
kemajuan-kemajuan ini bukan malah bersikap konservatif. Hal ini dapat dilihat
dari pesantren-pesantren di Indonesia yang senantiasa memanfaatkan tekhnologi
ini dalam proses pembelajaran. Contohnya saja, komputer, internet, hand phone
dan produk-produk lain yang dihasilkan karena berkembangnya globalisasi.
3. Islam dan Modernisasi,
Dalam buku "Islam Kemodernan dan Keindonesiaan" (177:1987), Nurcholis
majdid menjelaskan bahwa seorang muslim meyakini kebenaran Islam sebagai way
of life. Semua nilai dasar dari way of life tersebut secara menyeluruh
tercantum dalam kitab suci Al Quran. Dalam keberlangsungannya, dunia pasti
berkembang dan dituntut untuk lebih memudahkan segala aktifitas, hal ini
contohnya melalui modernisasi. Islam tidak menolak akan modernisasi, malah
mendukung dan dianggap wajib karena setiap zaman pasti memiliki
perubahan-perubahan yang terbaru. sehingga diperlukan suatu pedoman yang dapat
dijadikan pegangan oleh umat manusia. Islam telah menjelaskan akan universalitas
Islam, sehingga ajaran-ajaran didalamnya, yang termaktub di kitab suci Al-Quran
sangatlah berguna dan relevan terhadap perkembangan modernisasi.
4. Islam dan demokrasi
sering apabila mendengar kata Islam dan demokrasi mainstreamnya adalah dua hal
yang jauh dan tak bisa dikorelasikan. Padahal jika kita mencoba untuk
mempelajari ajaran-ajaran Islam, yang ada adalah Islam sangat kompetibel
terhadap demokrasi. Dalam islam tidak ada yang namanya membeda-bedakan ras,
suku, status dll dalam membicarakan hak. Semua manusia, baik itu cewek maupun
cowok, kaya atau miskin, cantik maupun jelek, mereka adalah sama. Mereka berhak
mendapatkan apa yang menjadi haknya dan melakukan apa yang menjadi
kewajibannya. Yang membedakan derajat mereka hanyalah satu, yakni tingkay
ketakwaan mereka kepada Allah SWT.
5. Islam dan terrorisme,
Agama Islam sering dikaitkan dengan terroris. Hal ini karena banyaknya kejadian
terror yang mengatasnamakan Islam sebagai latar belakangnya. Hal ini gampang
saja terjadi karena media dan instrumen-intrumen propaganda internasional
lainnya sebagai bumbu dari globalisasi, dapat membuat isu yang memojokkan
posisi Islam. Itu karena islam merupakan target menggiurkan dengan jumlah
pengikut yang besar di dunia, kelompok-kelompok kepentingan pastinya tidak akan
menyia-nyiakan peluang ini. Pada dasarnya, Islam tidak asal-asalan memberi
ajaran tentang perlakuan ekstrim ini. Islam itu cinta damai. Bagaimana dengan
konsep jihad? Jihad dalam islam juga jihad yang damai bukan seenaknya sendiri,
seperti yang dicontohkan Rasulullah dalam menyebarkan Islam, dimana Ia tidak
pernah melakukan tindakan kekerasan dan paksaan terhadap masyarakat pada
masanya. Islam itu adalah agama yang paling istimewa. Oleh karenanya,
keistimewaan itu akan diiringi dengan goncangan-goncangan gangguan dari
kelompok luar yang membenci dan iri terhadap Islam.
Dari penjelasan diatas, dapat dilihat betapa Islam sangat kompatibel
terhadap globalisasi. Bahkan globalisasi itu merupakan sesuatu yang wajib dan
ditanggapi dengan memanfaatkannya dengan sebaik-baiknya, guna meningkatkan
kualitas umat Islam dan kekokohan Umat Islam.
Daftar Pustaka:
- https://www.academia.edu/11107976/MAKALAH_PENGARUH_GLOBALISASI_TERHADAP_KEHUDUPAN_BANGSA_DAN_NEGARA
- https://www.academia.edu/6215005/_Globalisasi_dalam_Islam_
- http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/16005/1/was-feb2006-%20(5).pdf
Tidak ada komentar:
Posting Komentar