Kamis, 05 November 2015

Islam dan Globalisasi

Hidup di era globalisasi membuat kita melihat dunia semakin kecil dalam hal jangkauan tempat dan semakin sempit dalam jangkauan waktu. Karena sekarang jarak yang jauh dapat ditempuh dengan singkat. Jarak yang jauh juga tidak masalah yang berarti untuk menjalin komunikasi. Masalah antar negara yang dulunya dapat ditutupi dengan rapi, sekarang dengan mudahnya terpublikasi secara global. Semua hal ini tidak lepas dari semakin canggihnya tekhnologi yang membuat border antar negara semakin pudar. Disatu sisi, memang globalisasi ini membawa dampak positif dengan memudahkan segala aktifitas untuk dilakukan secara cepat dan akurat. Tapi konsep ini juga membawa dunia mengalami masalah yang lebih kompleks. Karena dengan semakin terbukanya hubungan antara individu, kelompok, komunitas dan negara, tidak hanya menciptakan kerjasama tapi juga konflik yang semakin bervariasi di dalamnya. Lalu bagaimana Islam menyikapi isu ini, apakah ia kompatibel untuk disandingkan dengan globalisasi? Hal ini dapat dijawab dengan bagaimana Islam itu sendiri memandang globalisasi.

Tidak ada definisi pasti mengenai globalisasi. Menurut Robertson (1992), globalisasi mengacu pada penyempitan dunia secara intensif dan peningkatan kesadaran kita akan dunia, yaitu semakin meningkatnya koneksi global dan pemahaman kita akan koneksi tersebut. Pendapat lain mengatakan bahwa globalisasi adalah proses dimana berberbagai peristiwa, keputusan dan kegiatan di belahan dunia yang satu dapat membawa konsekuensi penting bagi berbagai individu dan masyarakat di belahan dunia yang lain (A.G. Mc.grew, 1992). Dilihat dari definisi-definisi diatas, secara umum globalisasi dapat didefinisikan sebagai proses penyempitan dunia dimana suatu fenomena yang terjadi di satu negara dapat mempengaruhi negara-negara lain secara cepat dan merupakan suatu proses tatanan masyarakat yang mendunia dan tidak mengenal batas wilayah.

Islam merupakan agama global dengan ajaran yang universal. Konsep globalisasi dalam Islam sudah diterapkan dalam Islam sejak zaman Rasulullah SAW. Hal ini dapat dilihat ketika Rasulullah SAW memerintahkan utusan-utusannya untuk mengantarkan surat-surat dakwah ke raja-raja dan berbagai pemimpin di berbagai negara. Jadi, secara penerapan Islam sudah menggunakan konsep ini, hanya saja istilahnya baru ada jauh setelah beliau wafat dan diusung oleh barat. Globalisasi Islam berangkat dari kesatuan antaran tataran konseptual dan tataran aktual, dan ini merupakan keistimewaan Islam. Oleh karena itu, globalisasi dalam Islam adalah suatu proses mengglobalkan nilai-nilai universalitas seperti toleransi, kebersamaan, keadilan, kesatuan, musyawarah dan lain lain.

Karena Islam pada dasarnya adalah agama universal, maka Islam sangat relevan dengan konsep globalisasi ini. Hal ini seperti yang dikatakan oleh Subhilhar dan Indra Kesuma Nasution dalam tulisannya. Terdapat beberapa relevansi antara Islam dan globalisasi:

1.     Islam dan pembangunan sumber daya, Globalisasi mememiliki sifat kompetitif apalagi bila disandingkan dengan bisnis dan perekonomian antar negara. Sehingga hal ini menuntut masyarakat untuk mengembangkan potensi-potensi yang dimiliki dan berusaha yang terbaik untuk dapat memberikan kontribusi pembangunan negara atau dunia yang lebih baik. Dalam Islam, hal ini sangat didukung. Seperti ajaran-ajarannya yang tergambar di kalimat berikut: "Beribadahlah kamu seolah-olah kamu mati esok dan bekerjalahkamu seolah-olah kamu hidup selamanya." Kalimat tersebut mengisyaratkan bahwa bagi umat Islam diharuskan untuk berusaha melakukan pembangunan-pembangunan dan meningkatkan sumber daya.
2.     Islam dan globalisasi pendidikan, Mengglobalnya istilah globalisasi tidak lepas dari semakin canggihnya tekhnologi dan produksi. Dalam hal pendidikanpun, kecanggihan ini dapat dirasakan dan sangat membantu dalam proses belajar dan mengajar. Hal ini juga tidak dielakkan oleh Islam. Dalam Islam malah mencoba untuk menggunakan kemajuan-kemajuan ini bukan malah bersikap konservatif. Hal ini dapat dilihat dari pesantren-pesantren di Indonesia yang senantiasa memanfaatkan tekhnologi ini dalam proses pembelajaran. Contohnya saja, komputer, internet, hand phone dan produk-produk lain yang dihasilkan karena berkembangnya globalisasi.
3.     Islam dan Modernisasi, Dalam buku "Islam Kemodernan dan Keindonesiaan" (177:1987), Nurcholis majdid menjelaskan bahwa seorang muslim meyakini kebenaran Islam sebagai way of life. Semua nilai dasar dari way of life tersebut secara menyeluruh tercantum dalam kitab suci Al Quran. Dalam keberlangsungannya, dunia pasti berkembang dan dituntut untuk lebih memudahkan segala aktifitas, hal ini contohnya melalui modernisasi. Islam tidak menolak akan modernisasi, malah mendukung dan dianggap wajib karena setiap zaman pasti memiliki perubahan-perubahan yang terbaru. sehingga diperlukan suatu pedoman yang dapat dijadikan pegangan oleh umat manusia. Islam telah menjelaskan akan universalitas Islam, sehingga ajaran-ajaran didalamnya, yang termaktub di kitab suci Al-Quran sangatlah berguna dan relevan terhadap perkembangan modernisasi.
4.     Islam dan demokrasi sering apabila mendengar kata Islam dan demokrasi mainstreamnya adalah dua hal yang jauh dan tak bisa dikorelasikan. Padahal jika kita mencoba untuk mempelajari ajaran-ajaran Islam, yang ada adalah Islam sangat kompetibel terhadap demokrasi. Dalam islam tidak ada yang namanya membeda-bedakan ras, suku, status dll dalam membicarakan hak. Semua manusia, baik itu cewek maupun cowok, kaya atau miskin, cantik maupun jelek, mereka adalah sama. Mereka berhak mendapatkan apa yang menjadi haknya dan melakukan apa yang menjadi kewajibannya. Yang membedakan derajat mereka hanyalah satu, yakni tingkay ketakwaan mereka kepada Allah SWT.
5.     Islam dan terrorisme, Agama Islam sering dikaitkan dengan terroris. Hal ini karena banyaknya kejadian terror yang mengatasnamakan Islam sebagai latar belakangnya. Hal ini gampang saja terjadi karena media dan instrumen-intrumen propaganda internasional lainnya sebagai bumbu dari globalisasi, dapat membuat isu yang memojokkan posisi Islam. Itu karena islam merupakan target menggiurkan dengan jumlah pengikut yang besar di dunia, kelompok-kelompok kepentingan pastinya tidak akan menyia-nyiakan peluang ini. Pada dasarnya, Islam tidak asal-asalan memberi ajaran tentang perlakuan ekstrim ini. Islam itu cinta damai. Bagaimana dengan konsep jihad? Jihad dalam islam juga jihad yang damai bukan seenaknya sendiri, seperti yang dicontohkan Rasulullah dalam menyebarkan Islam, dimana Ia tidak pernah melakukan tindakan kekerasan dan paksaan terhadap masyarakat pada masanya. Islam itu adalah agama yang paling istimewa. Oleh karenanya, keistimewaan itu akan diiringi dengan goncangan-goncangan gangguan dari kelompok luar yang membenci dan iri terhadap Islam.

Dari penjelasan diatas, dapat dilihat betapa Islam sangat kompatibel terhadap globalisasi. Bahkan globalisasi itu merupakan sesuatu yang wajib dan ditanggapi dengan memanfaatkannya dengan sebaik-baiknya, guna meningkatkan kualitas umat Islam dan kekokohan Umat Islam.



Daftar Pustaka:


  • https://www.academia.edu/11107976/MAKALAH_PENGARUH_GLOBALISASI_TERHADAP_KEHUDUPAN_BANGSA_DAN_NEGARA
  • https://www.academia.edu/6215005/_Globalisasi_dalam_Islam_
  • http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/16005/1/was-feb2006-%20(5).pdf


Tidak ada komentar:

Posting Komentar